Resume Buku Literature in Language Education karya Geoff Hall
Membaca
Sastra Dalam Buku Literature
in Language Education karya Geoff Hall
Ingghar
Ghupti Nadia Kusmiaji
I. Pendahuluan
Karya sastra sangat erat hubungannya dengan pembaca,
karena karya sastra ditujukan kepada kepentingan pembaca sebagai penikmat
karya. Selain itu, pembaca juga yang menentukan makna dan nilai dari karya
sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang
memberikan nilai. Sebuah karya sastra bernilai indah jika ada yang
menghidupkannya atau menikmatinya. Oleh karena itu, diperlukan peran pembaca
untuk menghidupkan karya sastra melalui respon dan tanggapan yang diberikan.
Penafsiran bersifat lebih teoritis dan sistematis, oleh karena itu, termasuk
bidang kritik sastra. Meskipun demikian, resepsi sastra sebagaimana dimaksudkan
dalam teori kontemporer tidak terbatas sebagai reaksi, tetapi sudah disertai
dengan penafsiran, dan bahkan penafsiran yang sangat rinci.
Peranan pembaca, seperti disebutkan di muka benar-benar
merupakan pembalikan paradigma secara total, pembaca yang sama sekali tidah
tahu menahu tentang proses kreatif diberikan fungsi utama, sebab pembacalah
yang menikmati, menilai, dan memanfaatkannya, sebaliknya penulis sebagai asal
usul karya harus terpinggirkan, bahkan dianggap sebagai amonimitas. Oleh karena
itulah, dalam kaitannya dengan pembaca, berbeda dengan penulis, timbul berbagai
istilah, seperti: pembaca eksplisit, pembaca implisit, pembaca mahatahu, dan
sebagainya. Pembaca implisit atau pembaca yang sebetulnya disapa oleh pengarang
ialah gambaran mengenai pembaca yang merupakan sasaran si pengarang dan yang
terwujud oleh segala petunjuk yang kita dapat dalam teks. Pembaca eksplisit
adalah pembaca kepada siapa suatu teks diucapkan.
II. Pembahasan
3.1Pengantar
Pada bab ini membahas tentang perkembangan yang
telah ditelusuri sebelumnya dari gagasan-gagasan yang bersifat psikolinguistik
dan dipahami atau didapat dari keterampilan membaca. Kegiatan membaca apapun
harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. Membaca atau sastra tidak selalu
sama dalam segala konteks, tetapi memiliki perbedaan. Secara umum pengetahuan
atau keterampilan membaca dapat diartikan sebagai keahlian yang tanpa
melibatkan tubuh memfokuskan dan hanya melibatkan pandangan. Secara jelas dalam
pandangan apa pun pemahaman tentang cara pembacaan sastra merupakan hal yang
mendasar dalam ilmu pendidikan dan kesastraan sebagai nilai dalam pemerolehan
bahasa atau pendidikan bahasa yang lebih luas. Beberapa bukti empiris yang
ditinjau kembali menunjukkan bahwa ditemukan buta huruf pada metode membaca
yang digunakan dan juga makna yang dihasilkan dalam interaksi dengan suatu
teks. Pembaca adalah inti dari makna konstruksi dan pembaca memberikan pendapat
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, membaca lebih baik dilihat bukan sebagai
proses psikolinguistik yang rumit, tetapi sebagai peristiwa dan praktek dimana
identitas, kondisi, pengalaman sebelumnya. Pembaca memberikan kontribusi
penting dalam proses pembangun makna dari suatu teks.
3.2
Kritik tanggapan pembaca (Pembaca ideal, pembaca super, dan pembaca sejati)
Barry (1987: 9) bahkan menyarankan bahwa masalah ini
memecah kritik Amerika (teks sastra membutuhkan bahasa mandarin eksegesis) dari
Inggris (ide 'budaya umum': siapa saja yang bisa membaca bisa membaca sebuah
teks sastra). Seperti yang kita lihat sebelumnya, dengan pertanyaan
tentang 'bahasa sastra', kita temukan lagi penelitian itu, yang dipertimbangkan
dengan cermat, menunjukkan bahwa membaca sastra keduanya berbeda dan tidak berbeda,
yang membedakannya adalah pengertian yang lebih luas proses membaca dapat
memprediksi interaksi dengan bahasa dengan kecenderungan tertentu yang dibaca
dalam konteks tertentu oleh orang tertentu secara pasti tujuan –
pandangan wacana , singkatnya, akan sekali lagi terbukti membantu,
dan menunjukkan perlunya lebih banyak studi lokal tentang interaksi pembaca
yang tepat dengan teks.
Harus dilatih untuk mengekstraksi makna maksimum
dari pertimbangan 'kata-kata di halaman' itu sendiri, bukan daripada mengandalkan
informasi yang dianggap asing seperti kepengarangan, tanggal, dll. untuk
membantu mereka dalam membentuk interpretasi. Efek dari ide-ide Richards
pada pendidikan praktek yang luas dan terus sampai hari ini. Penelitian
empiris juga sering menyajikan pembaca dengan tulisan yang
didekontekstualisasikan untuk menyelidiki 'pembacaan sastra'. Membaca estetis,
menurut Rosenblatt, tidak hanya berurutan dan kumulatif. Pembaca membutuhkan
waktu dan ruang untuk berkembang dan banyak dorongan sehingga pembaca muda
dapat mengembangkan kepercayaan pada tanggapan mereka sendiri, sebuah
'penemuan' daripada model 'transmisi' pengajaran diperlukan.
Konvensi
Culler dalam membaca sastra
• Aturan
signifikansi : kita mengharapkan sebuah karya sastra, sampai pada tingkat yang
'klasik',
untuk
mengekspresikan sikap yang signifikan untuk beberapa masalah universal besar
tentang 'manusia'
dan/atau
hubungannya dengan alam semesta dll. (humanisme).
• Kata-kata
yang tepat telah dipilih dengan cermat : pentingnya bentuk permukaan.
• Aturan
koherensi metaforis : kita berharap menemukan signifikan dan bermakna.
pola
imaji dan bahasa non-literal lainnya.
• Karya
sastra harus siap dituliskan dalam tradisi sastra.
•
Kesatuan tematik dapat dilacak.
• Konvensi
kebalikan biner, sumbu semantik atau tematik juga mempromosikan koherensi
(baik
dan jahat, pria dan wanita, timur dan barat, dll.).
• Konvensi
fiksi : 'penangguhan ketidakpercayaan', eksperimen pikiran, imajinasi.
Pembaca
ideal, pembaca super, dan pembaca sejati
Untuk semua rangsangan pemikiran dan aktivitas yang
dihasilkan tulisan-tulisan tersebut, dengan kritikus sastra, pada akhirnya,
membaca masih agak diidealkan dan diabstraksikan (Culler sedang menulis tentang
'pembaca ideal' pada tahun 1975), dan masih cenderung berkonsentrasi pada
pembaca ahli yang membaca karya sastra kanonik atau 'klasik' di lembaga elit
konteks nasional, memang pada dasarnya otobiografi, 'cerita tentang membaca'
dalam formulasi Culler (1983)\
Pembaca
ideal dalam teori sastra
Pembaca yang tanggapannya saya bicarakan adalah
pembaca yang berpengetahuan, bukan abstraksi atau pembaca hidup yang
sebenarnya, tetapi hibrida – pembaca sejati (saya) yang melakukan segalanya
dalam kekuatannya untuk membuat dirinya diberi tahu [termasuk] petugas yang
menekan, dengan demikian sejauh itu mungkin, tentang apa yang bersifat pribadi
dan idiosinkratik dan 1970-an dalam tanggapan saya. (Ikan 1980: 49)
Pembaca ideal lebih tepat menjadi objek kajian
mengingat pembaca tipe ini memberikan arti individual kepada struktur-struktur
yang direpresentasikan oleh pengarang. Dengan demikian, pembaca real jauh lebih
penting bagi estetika resepsi daripada kategori pembaca ideal dan implisit yang
keduanya lebih merupakan kontruksi-kontruksi hipotesis.
Pembaca
Super
Kategori Super reader adalah pembaca yang
berpengalaman, pembaca kritis yang banyak mengetahui teori sastra sehingga
mampu memahami hubungan semantik dan pragmatik teks sastra. Pembaca ini sama
dengan pembaca ideal, yakni pembaca yang mempunyai kontruksi hipotesis seorang
teoretikus dalam proses interprestasi.. (Rosenblatt 1938: 30)
Pembaca
sastra sejati
Studi empiris tentang membaca sastra. Kegemaran
dalam logika melingkar, hipotesis spekulatif, penggunaan terminologi yang
berubah-ubah, dan pandangan monolitik pengalaman membaca berjalan di semua
pembaca yang berorientasi. pendekatan dalam studi sastra, dari tren paling awal
hingga terkini. . . . 'Pembaca' dalam pendekatan ini
dipahami sebagai universal, agregat, entitas hipotetis menanggapi secara
serempak.
(Bortolussi
dan Dixon 2003: 6)
Mempunyai pengertian yang sama dengan pembaca
implisit yakni, pembaca yang tahu dan mempunyai kompetensi bahasa, semantik,
dan kode sastra yang cukup sehingga mampu menggunakan kode-kode tekstual secara
menyeluruh.
3.3 Pembacaan Sastra
Banyak peneliti yang merasa membutuhkan pengalaman
dalam melakukan penelitian tentang pembacaan sastra. Pembaca yang memiliki
latar belakang yang berbeda-beda akan melihat hal yang berbeda pula pada
konteks pembacaan yang berbeda. Membaca melibatkan pemikiran dan juga bahasa,
membawa pesan yang terdapat dalam teks itu sendiri. Para peneliti selalu
bertanya: pembaca yang mana? Membaca apa, kapan dan untuk tujuan apa. Kebutuhan
yang terkait, seperti apa yang sudah menunjukkan akan bergerak atau berubah
dari pengertian kognitif yang berbeda tentang membaca sampai studi literasi
yang lebih spesifik. Dalam bab ini menyelidiki secara lebih umum apa yang
dikenal dengan membaca sastra atau membaca biasa dengan memberikan penjelasan
secara ringkas tentang dua bidang utama dari penelitian (psikolinguistik,
kognitif, linguistik dan pendidikan). Menguraikan topik dan pernyataan para
peneliti yang cenderung mengarah ke latar belakang studi kasus untuk diikuti.
Ini adalah bidang dari studi empiris pembacaan sastra. Sebagian besar adalah penelitian
tentang pembaca yang membaca teks sastra dalam bahasa pertama mereka sendiri.
Tetapi itu sering kali mendominasi penelitian bahasa kedua hingga saat ini.
Sebuah bagian singkat mengakhiri bab ini dengan uraian-uraian ringkas
penelitian secara khusus pembacaan sastra dalam bahasa yang bukan bahasa
pertama mereka sendiri.
Kesimpulan secara keseluruhan dari tinjauan ini
adalah bahwa bidang ini telah didominasi oleh penelitian psikologi dan studi
lapangan pendidikan. Yang tidak jelas ialah pendekatan terhadap sastra sebagai
diskursus atau sastra sebagai praktik sosial, dari sudut pandang linguistik
terapan yang akan menanyakan apa yang dipelajari pelajar sastra melalui
diskursus-diskursus yang dimana berperan serta dan apakah diskursus tersebut
dapat dikembangkan lebih mendukung dan menarik bagi para pelajar.
Penemuan
Empiris dari Psikologi Kognitif
Penemuan utama studi kognitif, membaca menekankan
pada pentingnya pengetahuan tentang latar belakang membaca. Ilmu kognitif dan
psikolinguistik mendemontrasi pada tahun 1970-an bahwa pembaca dengan latar
belakang atau sudut pandang yang berbeda memahami dan mengingat teks yang sama
secara berbeda. Pengetahuan, keakuratan, dan sudut pandang sebelumnya jelas
mempengaruhi pemahaman teks manapun (Anderson, 1977).
Dengan menggunakan metodologi with secondary readers
(7 dan 11 siswa) menunjukkan bahwa pembaca teks sastra lebih cenderung untuk
melihat di belakang dan di luar teks. Secara keseluruhan, pembacaan sastra
melibatkan lebih banyak perhatian untuk mengungkap kemungkinan dan makna.
Ketika para pembaca teks ilmu pengetahuan dan ilmu sosial lebih cenderung
menetapkan informasi, dengan pembacaannya menjadi semakin spesifik dan tepat.
Langer (1990) berpendapat bahwa cara berpikir yang lebih luas dalam kehidupan
dengan mengutip cara berpikir
yang profesional dan ilmuwan.
Demikian pula dengan Hanauer (1997) melakukan
penelitian terhadap kelompok pembaca dengan menyediakan teks puisi yang sama
akan tetapi dilakukan sedikit perubahan terhadap tiap baitnya. Dalam hal ini
memperlihatkan bahwa meskipun telah dilakukannya perubahan tidak membuat
pembacanya merasa asing dengan puisi yang telah disediakan. Zwan, yang pernah
menjadi rekan dalam penelitian Kintsch, menghasilkan salah satu penelitian awal
dan masih merupakan salah satu dari penelitian empiris. Kesimpulan dalam
penelitian tersebut ialah bahwa sastra tidak hanya tentang segi kebahasaannya
saja tetapi menjadi satu bagian kognitif. Zwan lebih suka menulis tentang
strategi kognitif daripada konvensi seperti yang dilakukan oleh Culler dan lain
lain. studi ini menunjukkan bahwa asumsi para pembaca diperlihatkan secara
empiris bahwa teks yang dibangun dengan cermat, seperti puisi kemungkinan besar
akan memberikan pemrosesian yang sama dan cermat. Temuan yang menarik, berbeda
dengan beberapa penelitian lain adalah bahwa meskipun kerumitan memang identik
dengan pemrosesian teks kesastraan, mereka berkonsentrasi pada bagaimana makna
yang akan dibuat. Sementara itu tampaknya menangguhkan penilaian tentang apa arti
semua itu. Membaca kesastraan mungkin menuntut untuk mengingat kembali daripada
beberapa jenis lain dari membaca.
Pembacaan sastra berbeda dari membaca biasa dan
perbedaan pendidikan sastra atau pengalaman sastra yang luas dapat membuat ke
produksi makna sastra sebagai lawan dari sekedar pengalaman yang bersifat
generalisasi oleh pembaca yang lebih dewasa. Perbedaan-perbedaan umum tertentu
sering diidentifikasikan oleh riset tersebut. Graves dan Frederiksen (1991)
dalam sebuah penelitian yang dikutip dimana-mana, melihat pada mahasiswa
sebagai lawan dari sastra professor bacaan dari sebuah novel modern the color
purple. Peskin (1998) melaporkan temuan serupa untuk pembacaan puisi. Dorfman
(1996) memperlihatkan bahwa para lulusan telah belajar untuk lebih menyukai
kesulitan dan ambiguitas. Dan contoh terakhir adalah Zeitz (1994) yang mana
memperlihatkan daya ingat yang lebih baik, interpretasi-interpretasi yang lebih
rumit yang menangani lebih banyak aspek dari pembacaan teks, argument, dan
perbandingan yang rumit. Dalam suatu eksperimen yang dikendalikan secara luar
biasa yang dapat mendorong penelitian lebih lanjut. Bortolussi dan Dixon (1996)
mengaku memperlihatkan bahwa persepsi dan penghargaan telah berhasil diajarkan
kepada para mahasiswa.
Riset
Edukatif
Dalam penelitian pendidikan berfokus pada para
pembaca secara individu dengan menggunakan riset, wawancara, buku harian dan
sejenisnya. Semuanya dirancang untuk menemukan apa yang dibuat oleh para
pembaca dari teks kesastraan yang mereka jumpai di ruang-ruang kelas. Sebagaian
besar dari penelitian ini telah meluas ke dalam bentuk yang di rubah dalam
penelitian bahasa kedua. Hendaknya dalam hal ini memperhatikan bahwa tanggapan
telah dibuat untuk menyarankan bahwa para guru perlu memastikan pemahaman pada
tingkat yang lebih linguistik dan semantik. Pendidikan sangat cenderung
meneliti atau menyelidiki kesastraan yag berpotensi untuk pertumbuhan moral,
pribadi dan sosial. Termasuk juga kenaikan pemahaman dan toleransi yang lebih
besar terhadap orang lain dengan berbagai cara yang berbeda. Penelitian
pembacaan sastra bahasa kedua yang dilakukan oleh sejumlah penelitian atas
lebih banyak pertanyaan linguistik.
3.4 Membaca dan membaca
sastra (Pembaca sastra bahasa kedua, Masalah bahasa, dan Membaca ekstensif)
Dalam banyak hal dan penting, kesimpulan yang dapat
ditarik dari survei hingga saat ini pasti bahwa membaca bahasa kedua pada
prinsipnya tidak jauh berbeda , dari membaca bahasa pertama dan
sering dapat dipelajari dengan menggunakan bahasa yang sama
teknik
dan metodologi yang diadaptasi (Verhoeven 1999). Bahasa kedua membaca
dapat dimodelkan dengan cara yang sama seperti membaca bahasa pertama. Dia
umumnya meningkat dengan latihan, dan penulis pada subjek mencatat pertumbuhan pentingnya
kefasihan membaca dalam bahasa tambahan (seringkali bahasa Inggris) untuk profesional
dan mahasiswa secara global.
Alderson
tentang faktor bahasa dalam bahasa kedua membaca
Buktinya adalah, dalam membaca bahasa kedua,
pengetahuan tentang bahasa kedua merupakan faktor yang lebih penting daripada
kemampuan membaca bahasa pertama. . .
[P]Kinerja
membaca bahasa kedua yang buruk kemungkinan disebabkan oleh kurangnya ilmu
bahasa . . . (Alderson 2000: 23, 25)
Pembaca
sastra bahasa kedua
Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah
suatu proses yang dipergunakan oleh anak-anak menyesuaikan serangkaian
hipotesis yang semakin rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau
tersembunyi yang mungkin sekali terjadi, dengan ucapan-ucapan orang tuanya
sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata
bahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut.
Belajar bahasa kedua dalam pendidikan formal tidak memungkinkan pemerolehan
input dalam jumlah yang sangat besar, karena terbatasnya jam di kelas. Salah
satu cara memperoleh input dalam jumlah yang besar adalah melalui membaca
ekstensif yang dapat dilakukan di luar kelas.
Masalah
bahasa
Schulz (1981), dari Amerika Serikat, menganggap
relatif kurangnya 'keterbacaan' dari
teks
sastra dalam istilah linguistik, mengacu pada faktor-faktor seperti
kompleksitas dan kesulitan kata, kalimat, dan sintaksis – yang terkadang bisa
kami tambahkan menuntut organisasi pada tingkat genre, wacana dan
retorika. Dalam Mengingat faktor-faktor seperti itu, Schulz menyayangkan
kecenderungan di banyak pendidikan tinggi situasi pengajaran untuk melompat
langsung dari silabus linguistik ke sastra (tema, citra, ide), asumsi yang
sering prematur bahwa 'bahasa mereka ukuran terserah sekarang', padahal
sebenarnya masalah bahasa harus lebih langsung dibahas dalam membaca literatur,
tentu pada tahap awal jika tidak selalu
Membaca
ekstensif
Perspektif buku ini adalah bahwa sastra muncul
sebagai interaksi antara teks dengan kecenderungan kebahasaan tertentu dan
pembaca dengan harapan dan minat tertentu, termasuk membaca untuk rasa ingin
tahu, kesenangan dan untuk 'memperluas cakrawala. membaca sebanyak mungkin teks
bacaan dalam waktu sesingkat mungkin. Tujuan membaca ekstensif untuk memahami
isi yang penting dengan cepat secara efisien. Membaca ekstensif meliputi, (1)
membaca survai (survey reading), (2) membaca sekilas (skimming), dan (3)
membaca dangkal (superficial reading).
Jadi membaca ekstensif dapat membantu pembelajar
dalam memperoleh bahasa kedua. Pembelajar tidaklah membutuhkan uraian yang
berbelit dan rumit, yang penting efek yang dihasilkan setelah membaca yakni
mengetahui ide utama bahan bacaan itu. Membaca ekstensif dapat dijadikan alat
bagi pembelajar dalam pemerolehan input dalam jumlah yang sangat besar. Jelas
bahwa peranan membaca ekstensif sangatlah besar terhadap pembelajar dalam
pemerolehan bahasa kedua, dapat membantu pembelajar dalam memperoleh bahasa
kedua, dapat dipakai sebagai reinforcement dalam menguasai psikologi,
pembelajar dapat memperoleh input sebanyak mungkin sehingga dapat meningkatkan
kualitas monitornya terhadap output, sebagai alat untuk mengakulturasi,
pembelajar dapat meningkatkan pengetahuan kebahasaan serta dapat menumbuhkan
motivasi yang tinggi untuk mernpelajari
3.5
Kesimpulan
Pembacaan
sastra muncul dari interaksi pada teks tertentu, dalam konteks tertentu dan
pembaca tertentu. Contohnya pembaca yang berinteraksi dengan teks sastra yang
menggunakan bahasa lain. Suatu penelitian secara individu mungkin akan memilih
untuk berfokus atau berkonsentrasi pada salah satu dari beberapa faktor ini.
Komentar
Posting Komentar